Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
Selasa, 05 Mei 2009
Diposting oleh shodiqsetyawan

POSISI DAN PERAN GURU

DALAM

MENJALANKAN PROFESINYA

A. Pendahuluan

Kegagalan merupakan salah satu dari awal keberhasilan. Keberhasilan seseorang akan berhasil jika mampu menghasilkan suatu karya yang dapat memicu ide kreatif. Akan tetapi jika seseorang tidak bekerja secara terus menerus dan mampu menghadapi semua cobaan, suatu karya tersebut akan sempurna, sebaliknya seseorang tidak terus berusaha maka hasil karya tersebut tidak akan menghasilkan suatu karya yang baik dan sempurna atau akan menimbulkan kegagalan.

Orang yang ulet selalu mampu menghadapi semua kegagalan. Ulet dalam hal menghasilkan dan selalu belajar dari kesalahan yang telah dibuatnya. Semua kegagalan pasti ada suatu titik keberhasilan.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa untuk mencapai keberhasilan diperlukan keuletan dan kedisiplinan dalam kerja. Guru merupakan salah satu orang yang ulet serta sabar dalam menhadapi cobaan serta kedisiplinan mereka yang mampu membawa anak didik memiliki kemampuan intelektual yang sangat luar biasa

Guru memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan pendidikan yang diarahkan untuk mampu mengembangkan ilmu tersebut untuk anak didik mereka.

B. Tinjauan Pustaka

A. Pendidikan Karakter

Karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain. Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga, seorang pendidik dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

B. Bersyukur Menjadi Pendidik

A. Perwujudan Bersyukur

Perwujudan bersyukur terhadap suatu kenikmatan yang telah diterima bukan sekadar suatu ucapan atau pernyataan tetapi juga berkaitan dengan tindakan. Maka sebagai bentuk perwujudan rasa syukur dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Menerima secara positif profesi sebagai pendidik,

2. Tidak dhalim terhadap profesi pendidik yang diemban,

3. Menjaga dan mengembangkan profesi pendidik dengan sungguh-sungguh.

B. Orientasi Bersyukur

Pentingnya belajar untuk mencari ilmu dimana pun ilmu itu berada, sebagai kunci untuk membuka segala sesuatu. Kita mesti sadar bahwa jika seseorang golongan, atau pun bangsa ingin menjadi manusia yang berkualitas maka mereka harus mengerti apa hakikat dan fungsi ilmu itu sendiri yang akan membentuk dan mengarahkan jiwa dan akal pikiran.

C. Aktualisasi Bersyukur

Sebagai manifestasi rasa syukur, maka dapat dilihat dari sudut pandang keberadaan, kebermaknaan, dan kedbermanfaatan profesi sebagai pendidik. Peran pendidik di dalam kehidupan dapat diklasifikasikan ke dalam 5 kelompok, yaitu: Manusia wajib, Manusia sunnah, Manusia mubah, manusia makruh, Manusia haram. diharapkan peran pendidik dapat memposisikan diri sebagai manusia wajib, setidak-tidaknya menjadi manusia sunnah.

C. Mendidik Sebagai Amanah

Dalam hubungan antara sesame manusia, amanah menjadi jaminan terpeliharanya keselamatan dan keberlangsungan hubungan tersebut.

Ø Kejujuran: Jantungnya Amanah

Sifat amanah tidak dapat lepas dari sifat jujur. Tidak menghianati amanah ini merupakan bentuk komitmen dalam mengemban amanah, terutama berkaitan dengan kejujuran.

Ø Upaya mengemban amanah

Amanah adalah suatu yang diberikan kepada manusia yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengembannya. Agar amanah dapat ditunaikan dengan baik, maka di perlukan upaya-upaya agar suatu lembaga tertentu dapat mengemban amanah yang dipercayakan oleh masyarakat. Untuk menegakkan amanah harus diperlukan adanya:

v Komitmen

v Kompeten

v Kerja keras

v Konsisten

D. Mendidik Dengan Keteladanan

A. Faktor Keteladanan

Keteladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu berbagai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan dibiasakan dengan baik sejak awal, khususnya bagi mahasiswa LPTK sebagai calon guru, maka akan memiliki arti penting dalam membentuk karakter sebagai seorang guru yang mendidik.

Keteladanan dalam pendidikan merupakan pendekatan atau metode yang sangat berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik. Setidaknya ada tiga unsur agar seseorang dapat diteladani atau menjadi teladan, yaitu:

ü Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi

ü Memiliki kompetensi minimal

ü Memiliki integrasi

B. Pendidik sebagai Cermin

Pendidik yang dapat diteladani berarti ia dapat juga menjadi cerminan orang lain. Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut:

· Tempat yang tepat untuk introspeksi

· Menerima dan menampakkan apa adanya

· Menerima kapan pun dan dalam keadaan apa pun

· Tidak pilih kasih/tidak deskriminastif

· Pandai menyimpan rahasia

C. Mendidik dengan keteladanan

1. Kesederhanaan

Seorang guruharus mampu membawakan diri dengantepat di hadapan murid walaunpun ia sederhana bahkan miskin. Apa yang diperhatikan murid bukan penampilanfisiknya tetapi kepiwaiannya dalam megajar dan mendidik.

2. Kedekatan

Kedekatan antara guru dan murid ibarat orang tua dengan anaknya, apabila anaknya ada kesulitan dalam menjalankan suatu pekerjaan orang tua akan selalu mengarahkan agar tidak salah.

E. Mendidik Dengan Hati

A. Pentingnya Hati

Hati merupakan sesuatu yang paling penting dan mulai pada diri manusia. Sesuatu aktivitas dapat dinilai benar dan salah tergantung pada niat dan maksud dari suara hatinya. Dalam mengawali dan menyelenggarakan pendidikan lebih khusus lagi dalam mengawali pembelajaran adalah membuka hati peserta didik untuk belajar. Jika peserta didik telah terbuka hatinya untuk mempelajari pelajaran yang diikutinya, maka mereka akan tertarik dan terdorong untuk belajar. Untuk membuka hati peserta didik guru harus berupaya membangkitkan rasa cinta kepada peserta didik. Untuk mengaktualisasikan pendidikan dan pembelajaran dengan suara hati, maka guru dapat mendasarkan untuk mencari keridhaan Yang Maha Kuasa dan merupakan tugas mulia serta tugas utama guru.

B. System Keyakinan

Keyakinan merupakan sesuatu yang terbaik yang tertanam dalam hati seseorang, oleh karena itu harus dibangun system keyakinan dan kokoh. System keyakinan harus dibangun melalui berbagai upaya yang diarahkan pada terwujudnya cita-cita atau tujuan sehingga dapat menumbuhykan keyakinan yang nyata serta membangkitkan semangat yang tinggi.

F. Paradigma Pembelajaran

A. Fokus Pembelajaran

Fokus pembelajaran diarahkan pada upaya agar murid mengembangkan lebih lanjut apa yang telah didapatkan sewaktu belajar. Untuk melaksanakan sistem pendidikan tersebut maka diperlukan sosk pendidik yang mampu mengemban amanah dan memiliki visi kedepan tentang pendidikan. Oleh karena itu diperlukan sosok guru yang memlilki karakter kuat dan mampu berfikir serta bertindak cerdas.

B. Mengajar yang Mendidik

Mengajar hendaknya dipandang dalam arti luas, yakni “ mengajar yang mendidik “. Tahapan awal yang harus dimiliki seorang guru adalah memiliki kemampuan mengajar yang benar. Dengan kemampuan ini diharapkan guru dapat mengembangkan diri yang selanjutnya akan memiliki kemampuan mengajar yang terampil dan produktif. Artinya guru bukan hanya mampu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran tersebut dengan melandasi dan menanamkan nilai-nilai pendidikan.

C. Mengajar adalah Belajar

Guru yang konsisten terhadap profesinya selalu belajar dan mengembangkan diri setiap waktu dan sepanjang hayat, maka ia selalu berkembang dan makin menguasai bidang studi yang diampu ia tidak merasa paling pintar dikelas atau dihadapan muridnya, misalnya guru menghadapi pertanyaan siswa yang dipandang sulit, guru secara terbuka akan mencarikan jawaban sebagai upaya pemecahannya walaupun disampaikan pada kesempatan lain. Inilah slah satu fungsi guru sebagai fasilitator atau pelayan. Disisi lain jika guru tidak mau belajar, maka ia akan mengalami kesulitan bila dihadapkan pada pertanyaan yang diajukan siswa. Sebagai akibatnya guru akan menutupi ketidak tahuannya dengan cara membatasi atau bahkan marah kepada siswa. Hal ini tentunya juga berakibat membatasi kreatifitas siswa dan proses pembelajaran akan terasa kaku dan tidak dinamis sehingga kualitas pembelajaran menjadi tidak optimal.

D. Suasana Pembelajaran

Agar pembelajaran yang berkualitas dapat terwujud, maka diperlukan suasana pembelajaran yang memadai. Oleh karena itu kita perlu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif agar hasil belajar yang diharapkan dapat maksimal. Suasana ini yang menyebabkan baik guru maupun murid merasa nyaman untuk belajar. Suasana pembelajaran hendaknya bukan hanya mentransfer pengetahuan dari guru kepada murid tetapi melakukan pendidikkan keseluruhan. Suasana pembelajaran seharusnya dapat membangkitkan suasana sejuk dan nyaman.

G. Pendidik Unggul

Untuk membangun guru unggul setidak-tidaknya ada tiga hal, yaitu penampilan terbaik, sikap terbaik, dan prestasi terbaik.

A. Penampilan Terbaik

Untuk membangun penampilan terbaik guru, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama posisi dan bahasa tubuh; gaya bicara dan ekspresi wajah; dan cara berpakaian.

a. Posisi dan bahasa tubuh

Posisi dan bahasa tubuh seorang guru menggambarkan perasaan dan sikapnya.

b. Gaya bicara dan ekspresi wajah

Ekspresi wajah menggambarkan kondisi seseorang saat itu. Jika raut muka yang ditampakkan muka masam atau berpaling, tentu akan menggambarkan kondisi perasaan yang sedih, kecewa, dan tidak menghargai orang yang berada dihadapannya. Demikian juga sebaliknya jika ditampakkan raut muka yang ceria dan senyum maka akan timbul suatu pesan dan kesan kegembiraan dan kebahagiaan.

c. Cara berpakaian

Dalam berpakaian harus memenuhi kaidah-kaidah agama. Tuntunan utama syariat dalam berpakaian adalah menutup aurat. Tujuannya adalah untuk menjaga kehormatan yang berpakaian. Kebersahan pakaian akan membawa kepada kesehatan. Oleh karena itu, pakaian yang bersih disamping enak dipandang juga menyehatkan. Disamping secara syariat dan kebersiahan terpenuhi, maka dalam berpakaian juga perlu mempertimbangkan aspek kepatutan atau kepantasan yang sangat terkait dengan budaya dan kondisi setempat.

B. Sikap terbaik

Untuk mendapatkan sikap yang terbaik harus ditunjukkan dengan kepedulian social; menebarkan salam dan kedamaian; dan bijak dalam bicara, santun dalam berbuat, baik dalam bersikap.

C. Pretasi terbaik

Agar dapat mencapai hasil maksimal kita harus berani melakukan kegiatan diluar kebiasaan rata-rata yang dilakukan orang. Seorang guru rajin membaca akan lebih kompeten dibandingkan dengan guru yang hanya menjalankan tugas mengajar bahkan dengan aktif dan rajin menemukan sesuatu dan dapat mengembangkan disiplinilmunya.

H. Berfikir Dan Bertindak Cerdas

Cerdas adalah cepat mengerti dan memahami masalah yang dihadapi; cepat tanggap dalam mengahadapi masalah; tajam dalam menganalisis dan mencari alternatif-alternatif solusi; dan mampu memecahkan masalah.

C. Logika Verbal

Keluaran pendidikan seharusnya dapat menghasilkan orang “ pintar “ tetapi juga orang “ baik “ dalam arti luas. Pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “ pintar “ tetapi “ tidak baik ”, sebaliknya juga pendidikan tidak hanya menghasilkan orang “ baik “ tetapi “ tidak pintar “. Orang yang “ pintar “ saja tetapi “ tidak baik “ akan menghasilkan orang yang “ berbahaya “ karena dengan kepandaiannya ia bias menjadikan sesuatu menyebabkan kerusakan dan kehancuran. Setidak-tidaknya pendidikan masih lebih bagus menghasilkan orang “ baik “ walaupun tidak “ pintar “. Pendidikan di sekolah tidak lagi cukup hanya dengan mengajar peserta didik membaca, menulis, dan berhitung, kemudian lulus ujian, dan nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik. Sekolah harus mampu mendidik perserta didik untuk mampu memutuskan apa yang benar dan salah. Sekolah juga perlu membantu orang tua untuk menemukan tujuan hidup setiap peserta didik. Pendidikan juga harus mampu membukakan mata hati peserta didik untuk mampu melihat masalah-masalah bangsa dan dunia. Agar guru mampu menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran tersebut, maka diperlukan sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas. Sosok guru yang berkarakter kuat dan cerdas diharapkan mampu mengemban amanah dalam mendidik peserta didiknya. Kompetensi utama yang harus melekat pada tenaga pendidik adalah nilai-nilai keamanahan, keteladanan dan mampu melakukan pendekatan pedagogis serta mampu berpikir dan bertindak cerdas.

D. Penalaran Deduktif

Bersyukur Menjadi Pendidik

Guru yang bersyukur selalu fokus pada apa yang dimiliki. Menikmati apa yang ada bukan berarti menyesali dan meratapi apa yang tiada atau hilang dari genggaman kita. Kita tidak selalu dapat memperoleh apa yang diinginkan, namun sesungguhnya kita juga dapat menikmati apa yang kita miliki.

Perwujudan bersyukur terhadap suatu kenikmatan yang telah diterima bukan sekadar suatu ucapan atau pernyataan tetapi juga berkaitan dengan tindakan. Sebagai perwujudan rasa syukur dapat dijabarkan sebagai berikut: menerima secara positif profesi sebagai guru, tidak dhalim terhadap profesi guru, menjaga dan mengembangkan profesi pendidik dengan sungguh – sungguh.

Seorang guru yang jarang mengajar atau tidak bersungguh – sungguh dalam bekerja berarti ia termasuk tidak mensyukuri nikmatnya.

Mendidik Sebagai Amanah

Dalam hubungan antara sesama manusia, amanah menjadi jaminan terpeliharanya keselamatan dan keberlangsungan hubungan tersebut. Rusaknya amanah akan merusak hubungan antara sesama manusia. Penyerahan amanah kepada manusia oleh Tuhan dimaksudkan untuk mengangkat nasib manusia pada posisi yang lebih tinggi sepanjang amanah itu diembannya dengan baik dan akan menurunkannya pada posisi yang lebih rendah dari binatang ternak bila amanah itu diabaikan.

Dalam dunia pendidikan amanah terutama terjadi antara masyarakat sebagai pemberi amanah dan lembaga pendidikan sebagai penerima amanah. Dengan kata lain masyarakat menitipkan atau menyerahkan anaknya untuk mengikuti proses studi kepada institusi pendidikan yang mengelola amanah tersebut untuk mencapai tujuan tertentu. Secara lebih khusus, orang tua menyerahkan anaknya kepada guru agar dididik dan dikembangkan potensinya.

Sifat amanah tidak dapat lepas dari sifat jujur. Dapat dikatakan bahwa kejujuran merupakan pilar utama dalam mengemban amanah. Untuk itu, perlu adanya upaya untuk menegakkan amanah tersebut. Upaya tersebut, terutama diperlukan adanya komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten.

Amanah dan memenuhi janji merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Orang yang memenuhi janji berarti ia orang yang memiliki komitmen untuk memegang amanah. Amanah dan memenuhi janji harus dilakukan oleh seorang guru.

Seorang pendidik harus memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Tanpa komitmen yang kuat, suatu tujuan tidak akan tercapai secara optimal, bahkan dapat menuai kegagalan. Sebaliknya, jika seorang pendidik tidak memiliki komitmen yang kuat berarti ia tidak amanah atau mengabaikan amanah. Komitmen merupakan langkah awal dalam menerima, memenuhi, dan mengembangkan amanah. Sabagai perwujudan langkah awal tersebut adalah adanya ikrar atau janji yang harus terpenuhi.

Hal yang berkaitan dengan komitmen yang dapat dilakukan pendidik agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Komitmen yang dimaksud, (1) Memiliki visi ke depan dan tekad dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik; (2) Memiliki karakter, budi pekerti, dan akhlak mulia; (3) Mampu mengelola dan mengontrol diri dalam peserta didik; (4) Mampu melakukan yang terbaik dalam mengembangkan potensi peserta didik; (5) Bekerja keras dengan penuh pengabdian

Di samping amanah harus diemban secara sungguh – sungguh, guru juga harus ahli. Artinya guru juga harus berkompeten dan profesional. Guru yang berkompeten adalah guru yang memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan pembelajaran dan kemampuan memecahkan berbagai masalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Guru yang berkompeten akan memberikan kepercayaan diri kepada muridnya. Murid akan melihat gurunya sebagai sosok yang pantas dipercaya, tidak hanya dari kata – kata dan perbuatannya tetapi juga kompetensi atau keahliannya. Seorang guru yang kompeten tentunya mampu memfasilitasi muridnya agar juga berkompeten, bahkan muridnya lebih berkompeten.

Guru dalam mengemban tugasnya harus memiliki konsistensi, berarti ia selalu istiqomah, ajeg, fokus, sabar serta ulet. Guru yang melakukan tugasnya secara terus menerus juga termasuk guru yang konsisten.

Guru harus istiqomah, artinya ia harus teguh dalam memegang prinsip dan memiliki pendirian yang kuat. Guru yang dalam bekerja selalu mendasarkan pada norma, aturan, dan kaidah berarti ia termasuk guru yang istiqomah. Seseorang yang istiqomah ia juga memiliki komitmen yang kuat.

Guru harus ajeg melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi pekerjaannya, maksudnya adalah secara terus menerus, berkesinambungan tekun, rutin, dan secara teratur melakukan sesuatu dalam waktu relative lama. Seorang guru yang ajeg belajar maka ia akan selalu berkembang ilmunya. Berarti ia juga sekaligus menerapkan prinsip belajar seumur hidup.

Guru harus fokus pada bidang studi tertentu yang menjadi keahliannya sehingga ia memiliki konsentrasi kajian yang mendalam. Berarti ia menguasai bidang studi tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.

Di samping fokus pada bidang tertentu, maka ia juga harus mampu menyelesaikan pekerjaan secara tuntas, artinya sebelum menginjak pada pekerjaan selanjutnya ia mampu menyelesaikan pekerjaan secara akurat.

Guru yang konsisten harus sabar dan ulet, ia juga harus mau dan mampu melakukan sesuatu dalam waktu relatif lama walaupun banyak cobaan, rintangan, ataupun tantangan.

E. Simpulan

Guru merupakan profesi yang mulia, penuh pengabdian, dan memiliki peran yang sangat bernilai dalam rangka menyiapkan SDM bangsa. Disamping itu, posisi dan peran guru dan sekaligus guru harus memiliki kualitas-kualitas tertentu, seperti baik martabatnya, tahu aturan, ahli Ibadah dan hidup sederhana, serta seorang guru harus tulus dan fokus pada profesinya. Guru harus memiliki prinsip dan selalu istiqomah sehingga ia tetap hidup mulia dan bahagia. Disamping memiliki pengabdian guru juga sebagai pengembang dan penuntut ilmu.

F. Daftar Pustaka

Hidayatullah, M. Furqon. (2009). GURU SEJATI: Membangun Insan berkarakter Kuat & Cerdas. (Solo: Yuma Pustaka).